Karimun Jawa

Thursday, December 20, 2012


Karimunjawa adalah kepulauan di Laut Jawa yang termasuk dalam Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Dengan luas daratan ±1.500 hektare dan perairan ±110.000 hektare, Karimunjawa kini dikembangkan menjadi pesona wisata Taman Laut yang mulai banyak digemari wisatawan lokal maupun mancanegara.
Bagi para diver, Caribbean Van Java (nama lain Karimun Jawa dari Bowo Hartanto seorang travel junkie) merupakan salah satu spot surga yang ada di Indonesia Karimunjawa adalah rumah bagi terumbu karang, hutan bakau, hutan pantai, serta hampir 400 spesies fauna laut, di antaranya 242 jenis ikan hias. Beberapa fauna langka yang berhabitat disini adalah elang laut dada putih, penyu sisik, dan penyu hijau. Tidak hanya kaya akan terumbu karang, Karimun Jawa memiliki hutan mangrove, kawasan hutannya dihuni pula hewan-hewan yang dilindungi. Disini juga terdapat penangkaran hiu dan pari.
Tumbuhan yang menjadi ciri khas Taman Nasional Karimunjawa yaitu dewadaru (Crystocalyx macrophyla) yang terdapat pada hutan hujan dataran rendah.
Keaneragaman spesies laut yang terdapat di dalamnya, seperti penyu hijau, penyu sisik, ikan pari, hiu, ubur-ubur, rumput laut dan sekitar dua ratus jenis ikan hias di dalamnya. Selain itu, hampir seluruh pantai di Kepulauan Karimunjawa juga di kelilingi oleh berbagai jenis terumbu karang berwarna-warni, baik di perairan dangkal maupun di perairan dalam. Hal inilah yang membuat tempat ini ditetapkan sebagai Taman Nasional Karimunjawa pada tahun 1999 dan dikelola oleh Kementerian Kehutanan. Selanjutnya pada tahun 2001, sebagian luas wilayah taman nasional ini kemudian ditetapkan sebagai Kawasan Pelestarian Alam Perairan.









Cara mencapai lokasi, dari Jepara (Pelabuhan Kartini) menuju Karimun Jawa dengan naik kapal motor Dewodaru dan Tongkol dua kali dalam seminggu. Dapat juga dari Semarang (Bandara Ahmad Yani) menuju Pulau Kemujan (Bandar Dewodaru) dengann pesawat udara sekali seminggu.

Taman Laut Banda


Salah satu atraksi alam yang potensial bagi pengembangan pariwisata di Propinsi Maluku adalah adanya taman-taman laut dengan terumbu karang yang cukup luas dan indah berkelompok di sekitar Pulau Neira dan Pulau Banda Besar. Di sinilah terdapat Taman Laut Banda.
Terumbu karang di kepulauan Banda ini merupakan salah satu yang terkaya akan jenis karangnya di antara terumbu karang lainnya yang ada di dunia. Dari 700 jenis karang yang ada di dunia sekitar 432 jenis karang (64%) terdapat di kepulauan Banda.
Taman-taman laut tersebut secara resmi telah ditetapkan sebagai Cagar Alam/ Taman Laut Banda dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 221/Kpts/Um/4/1977 tanggal 25 April 1977 seluas 2.500 ha.
Secara administratif Pemerintahan, Cagar Alam Taman Laut Banda ini termasuk ke dalam Kecamatan Banda, Kabupaten Daerah Tingkat II Maluku Tengah.
Cagar Alam/Taman Laut Banda memiliki potensi yang menonjol, antara lain adalah :
           Komunitas terumbu karang yang cukup luas dan lengkap tersusun rapi secara alamiah dengan diversitas moluska yang cukup tinggi.
           Flora yang terdiri dari berbagai jenis rumput laut.
           Berbagai jenis burung seperti raja udang hutan (Halcyon macleayii), gangsa batu kaki merah (Sula sula), dan ikan hias dalam berbagai ukuran dan warna.     








Untuk mencapai kawasan Cagar Alam/Taman Laut Pulau Banda, dapat ditempuh antara lain dengan cara dari Ambon ke Banda (Neira) dengan menggunakan pesawat terbang dengan waktu tempuh sekitar satu jam atau dengan menggunakan kapal laut, dengan waktu tempuh sekitar 8 jam. Dari Pulau Banda (Neira) dapat langsung masuk ke kawasan dengan perahu carteran dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Kerennya Bunaken


Bunaken adalah sebuah pulau seluas 8,08 km di Teluk Manado, yang terletak di utara pulau Sulawesi, Indonesia. Pulau ini merupakan bagian dari Kota Manado, ibu kota provinsi Sulawesi Utara. Di sekitar pulau Bunaken terdapat taman laut Bunaken yang merupakan bagian dari Taman Nasional Kelautan Manado Tua.

Taman Nasional Bunaken memiliki keanekaragaman hayati pesisir dan laut yang sangat tinggi dan terdapat tiga ekosistem utama perairan tropis Indonesia, yaitu Terumbu Karang, Hutan Bakau dan Padang Lamun. Bunaken mempunyai sedikitnya 40 tempat penyelaman yang kaya akan ikan ikan tropis dan terumbu karang. Pengunjung dapat menyelam dan menyaksikan 150 spesies dari 58 genus ikan serta terumbu karang di kawasan laut bunaken ini. Di laut Bunaken ini juga akan kita temukan salah satu jenis ikan purba yaitu ikan choelacant (ikan raja laut) yang hidup dikedalaman 80 meter. Secara keseluruhan, Taman Laut Nasional Bunaken, Indonesia meliputi area seluas 75.262 hektar yang terdiri dari 5 pulau yaitu pulau menado tua, pulau bunaken, pulau siladen, pulau mantehage dan pulau naen.




 
Taman Laut Bunaken memiliki 29 titik selam (dive spot) dengan kedalaman mulai 1.344 meter. Dari 20 titik selam. 12 titik selam diantaranya berada di sekitar Pulau Bunaken. Ke 12 titik selam inilah yang kerap dikunjungi penyelam dan pecinta keindahan pemadangan laut.

Pengunjung yang akan masuk kawasan taman laut bunaken dikenakan tiket sekali masuk sebesar Rp 50.000 per orang. Biaya ini berlaku bagi yang ingin menyelam maupun yang tidak. Selain itu ditawarkan pula tiket yang berlaku satu tahun hanya sebesar Rp 150.000 ,00.

Merapat ke Raja Ampat


Selain di Wakatobi, Indonesia juga memiliki tempat menyelam lain yang tak kalah keren. Tempat penyelaman tersebut terletak di timur Indonesia yakni Kepulauan Raja Ampat. Kepulauan ini terletak di barat laut kepala burung Pulau Papua dan memiliki empat pulau besar yakni Misol, Salawati, Bantata dan Waigeo. Di tahun 2011, jumlah wisatawan yang datang ke Raja Ampat sebanyak sekitar 8400 orang. Dari jumlah itu 8000 di antaranya, merupakan wisatawan mancanegara yang kebanyakan dari benua Eropa, Amerika dan Asia, sedangkan sisanya pelancong tanah air.
 
Raja Ampat menawarkan paket wisata yang lengkap yang mengedepankan aspek keanekaragaman hayati baik di dalam laut maupun di atas laut dengan pemandangan yang begitu memikat. Wilayah ini memiliki keanekaragaman hayati terlengkap di dunia.

Untuk wahana bawah air, wilayah ini memiliki 553 jenis koral yang merupakan yang terbanyak seantero jagad dengan presentase 70 persen dari yang ada di bumi. Selain itu, wilayah perairan Raja Ampat juga memiliki 1432 jenis ikan, 699 moluska, 16 jenis ikan mamalia serta satu jenis dugong. 




Ini dia the walking shark atau hiu berjalan  di Raja Ampat 



Itu yang membuat keanekaragaman hayati Raja Ampat terbaik di dunia. Belum lagi Raja Ampat merupakan wilayah yang menjadi perlintasan ikan paus karena lokasinya yang berada di bibir samudra pasifik. Rombongan paus melintas ke sana pada periode Juni-Oktober.  Selain itu, Raja Ampat juga memiliki sejumlah spesies bawah laut yang masuk dalam kategori langka di antaranya adalah hiu karpet, dan walking shark atau hiu berjalan. Hiu berjalan ini unik. Hewan tersebut sering berjalan dengan sirip, bukan berenang seperti ikan lain. 

Wilayah ini juga menyajikan pesona daratan yang tak kalah memikat. Gugusan pulau-pulau yang dikenal dengan sebutan the four king ini memiliki formasi karst (batu kapur) yang tiada duanya dipadu dengan kehadiran burung-burung langka seperti Cenderawasih Merah, Cenderawasih Wilson, serta Maleo Waego.
Itulah pesona yang dimiliki Raja Ampat sehingga tak heran tempat tersebut sering dikunjungi wisatawan terutama wisatawan luar negeri. Pada tahun 2011 lalu, Raja Ampat berhasil meraih predikat Kota Tujuan Wisata Favorit dalam ajang penghargaan Indonesia Tourism Award 2011

Untuk menuju ke sana, pertama kita naik pesawat dari Jakarta menuju Sorong. Setelah itu, dari Sorong ke Waisai, ibukota Kabupaten Raja Ampat.

Eksotisnya Wakatobi

Wednesday, December 12, 2012

"Wakatobi merupakan tempat menyelam paling indah di dunia" kata Jacques Costeau yang merupakan seorang jurnalis selam dunia.

Di mana letak Wakatobi dan mengapa Jacques Costeau sampai mengklaim Wakatobi sebagai tempat menyelam paling indah di dunia? Mungkin itulah pertanyaan kalian ketika membaca atau mendengar kalimat Jacques di atas.
Sebenarnya Wakatobi merupakan nama sebuah kabupaten di Sulawesi Tenggara, Indonesia. Kabupaten tersebut terdiri dari 4 pulau utama yang terdiri dari Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Jadi, Wakatobi merupakan singkatan dari keempat pulau tersebut. Nah, di Wakatobi inilah terdapat sebuah taman laut bernama Taman Nasional Wakatobi.



Taman nasional yang memiliki total area 1, 39 juta hektar ini sangat kaya akan spesies koral, yakni terdapat 750 dari total 850 spesies koral yang ada di dunia.Taman Nasional Wakatobi juga menjadi tempat beberapa jenis burung laut seperti Angsa-Batu Coklat (Sula leucogaster plotus), Cerek Melayu (Charadrius peronii) dan Raja Udang Erasia (Alcedo atthis) bersarang. Beberapa jenis penyu juga menjadikan taman ini sebagai rumah mereka seperti penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Selain itu, lebih dari 112 jenis karang dari 13 famili tinggal di sana. Sebanyak 93 jenis ikan seperti (Cephalopholus argus), takhasang (Naso unicornis), pogo-pogo (Balistoides viridescens), napoleon (Cheilinus undulatus), ikan merah (Lutjanus biguttatus), baronang (Siganus guttatus), Amphiprion melanopus, Chaetodon specullum, Chelmon rostratus, Heniochus acuminatus, Lutjanus monostigma, Caesio caerularea, dan lain-lain ada di sana. Keberadaan 25 buah gugsan terumbu karang semakin mempercantik keadaan bawah laut Wakatobi. Untuk bisa melihat keindahan bawah laut wakatobi, kalian bisa snorkeling atau diving. Di sana tersedia tempat penyewaan peralatan snorkeling dan diving.




Selain snorkeling dan diving atau berenang, kalian juga bisa melakukan berbagai aktivitas lain seperti berjalan atau bermain di pantai dan juga berkemah karena daerah pantai atau daratannya pun tak kalah indah dan eksotis. Pantai dengan pasir putih, air laut yang jernih, sunset yang terlihat dari tepi pulau, reruntuhan sejarah seperti benteng-benteng kuno dan meriam yang tersebar di empat pulau utama akan membuat kalian betah berlibur di Wakatobi. Bahkan kalian bisa berwisata budaya dengan berinteraksi dengan suku asli yang dikenal dengan suku Bajau. Menurut catatan penjelajah Cina dan Eropa kuno, mengatakan bahwa manusia perahu adalah manusia yang mampu mengeksplorasi Johor, Singapura, Sulawesi dan Kepulauan Sulu. Dari keseluruhan manusia perahu di Asia Tenggara yang masih memiliki kebudayaan perahu tradisional adalah suku Bajau. Menyelami kehidupan sehari-hari mereka yang menarik dan unik, terutama keahlian menyelam ke dasar laut tanpa peralatan untuk menombak ikan.
Satu hal lagi yang tak boleh dilewatkan di Wakatobi yakni wisata kuliner.  Selain aneka seafood, di sana kalian bisa mencoba makanan khas Wakatobi seperti Paria (sayur paria yang diisi dengan ikan), Tombole (tepung ubi kayu di campur dengan kelapa parut di bungkus daun pisang lalu di bakar dengan batu yang panas), Kasouami (terbuat dari singkong), Barongko (berbahan dasar pisang yang di kukus dengan  daun pisang).
Nah, asik bukan? Untuk menuju Wakatobi  kalian bisa menggunakan pesawat dari Jakarta menuju Wakatobi dengan tujuan Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara, kemudian melanjutkan perjalanan dengan kapal langsung ke Wanci di Pulau Wangi-Wangi. Wanci merupakan pintu gerbang pertama memasuki kawasan Taman Nasional Wakatobi. Kapal reguler menuju Pulau Wangi-Wangi berangkat tiap pagi pukul 10 dan akan tiba di tujuan sekitar 10 sampai 12 jam kemudian. Dari Wangi-Wangi, perjalanan ke pulau-pulau lain bisa ditempuh dengan perahu-perahu sewaan atau perahu reguler yang sederhana, tetapi cukup aman.